Kamis, 19 September 2013

MAKALAH PANTUN

Apresiasi dan Kreasi Sastra
Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Apresiasi dan Kreasi Sastra
Dosen: Jamal D. Rahman, Drs.,M.Hum

Disusun Oleh
Kiki Noffitri (1112013000021)

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Jl. Ir. H. Juanda No.95 Ciputat Tangerang 15412 Tlp: (021) 7401925

KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas saya ucapkan kepada Allah STW, karena dengan bimbinganNya maka saya bisa menyelesaikan makalah Apresiasi dan Kreasi Sastra ini dengan tepat waktu.
Makalah ini dibuat dengan berbagai referensi dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Karena setiap manusia tidak luput dari tempatnya salah dan keliru. Oleh karena itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.


Jakarta,  19 September 2013



Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                                                                               ii
DAFTAR ISI                                                                                                              iii
BAB  I PENDAHULUAN                                                                                        1
1.      Latar Belakang                                                                                          1
2.      Rumusan Masalah                                                                                     1
3.      Tujuan                                                                                                       1
4.      Metode                                                                                                      1
BAB II  PEMBAHASAN                                                                                         2
1.      Pengertian Puisi                                                                                        2
2.      Jenis Puisi                                                                                                  3
3.      Pantun                                                                                                       3
4.      Ciri-Ciri Pantun                                                                                         4
5.      Macam-macam pantun                                                                              5
6.      Pantun Pengiring Lagu                                                                             6
7.      Perkembangan Pantun                                                                              7
BAB III PENUTUP                                                                                                   9
1.      Kesimpulan                                                                                               9
2.      Daftar Pustaka                                                                                          10

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Di dalam makalah ini kami membahas mengenai pantun, sebagaimana telah kita ketahui pantun termasuk karya sastra puisi lama.  Pantun sering kita dengar di mana saja, dalam percakapan, acara-acara penting, kegiatan sehari-sehari, bahkan sering kita di radio ada acara yang mengkhususkan untuk berpantun. Pantun kerap kali kita ketahui hanya sastra lisan semata, tetapi perlu diketahui bahwa pantun kini terdapat pantun tertulis, pantun yang ditulis, dikumpulkan, dan dipublikasikan secara luas, tetapi pantun juga harus dibacakan secara lisan agar terlihat nilai estetika yang terkandung di dalamnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja yang dimaksud puisi dan lama?
2.      Apa pengertian pantun?
3.      Apa saja jenis-jenis pantun yang telah berkembang?

C.     Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi mata kuliah Apresiasi dan Kreasi Sastra dan memberikan pengetahuan kepada pembaca agar mengetahui mengenai pantun dengan baik dan benar.

D.    Metode
Dalam pembuatan makalah ini kami menggunakan metode studi pustaka dari berbagai sumber buku yang sesuai dengan materi yang saya bahas.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Puisi
Hampir dalam setiap bahasa daerah di Indonesia dikenal jenis karya sastra berbentuk puisi yang sudah mempunyai ikatan metric tertentu sehingga dapat dinyanyikan menurut pola lagu yang sudah dikenal baik dalam masyarakat. Karya-karya demikian penuh dengan keajaiban, kesaktian, nasihat, dan petuah ditulis dengan bahasa tinggi yang sering merupakan klise, sehingga sudah dikenal dan dihapal oleh para pengemarnya.[1]
Puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan sang pencipta, melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh, dalam bentuk teks yang dinamakan puisi. M.Atar Semi mengutip beberapa pendapat ahli sastra tentang pengertian puisi: a) Willia Worsworth: poetry is the best word in the best order (puisi adalah kata-kata yang terbaik dalam sususan yang terbaik); b) Leight Hunt: poetry is imaginative passion (puisi adalah luapan perasaan yang imajinatif); c) Mathew Arnold: poetry is critism of life (puisi merupakan kritik kehidupan); d) Herbert Read: poetry is intuitive, imajinative, and synthetic (puisi bersifat intuitif, imajinatif, dan sintetik)
Di balik kata-katanya yang ekonomis, padat, dan oadu tersebut puisi berisi potret kehidupan manusia. Puisi menyuguhkan persoalan-persoalan kehidupan manusia juga manusia dalam hubungannya dengan alam, dan Tuhan sang pencipta. Masalah kehidupan yang disuguhkan penyair dalam puisinya tentu saja bukan sekedar refleksi realitas penafsiran, kehidupan, rasa simpati kepada kemanusiaan, renungan mengenai penderitaan manusia dan alam sekitar) melainkan juga enderung mengekspresikan hasil renungan penyair tentang dunia metafisis, gagasan-gagasan baru ataupun sesuatu yang belum terbayangkan dan terpikirkan oleh pembaca, sehingga puisi sering dianggap mengandung suatu misteri.
B.     Jenis Puisi
Jenis puisi dalam sastra Indonesia dikenal ada puisi lama (tradisional), puisi baru (modern), dan puisi kontemporer. Jenis puisi lama seperti: bidal, pantun, syair, gurindam, talibun, seloka, karmina (pantun kilat). Jenis puisi baru seperti: epik, balada, soneta, ode, elegy, epigram, satire, romanis, dan puisi-puisi berdasarkan jumlah baris seperti distikon, terzina, kuatern, kuint, sekstet, septima, stanza, soneta.[2]
C.     Pantun
Tradisi lisan di mana pun, merupakan asal muasal puisi modern. Bahkan cukup aman untuk mengatakan bahwa pada dasarnya puisi modern pun yang ditulis berdasarkan prinsip keberaksaraan, memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan prinsip kelisanan. Piranti puisi seperti rima, irama, pengulangan, aliterasi, asonansi, dan kesejajaran menunjukkan membuktikan bahwa puisi tulis dan cetak memang harus “dilisankan” untuk mendapatkan keindahan dan maknanya meskipun tentu kita tidak perlu melisankan secara keras, tetapi cukup dalam pikiran kita. Dalam perkembangan puisi kita pengembangan berbagai jenis tradisi lisan itu masih nampak sampai sekarang, seperti yang tampak dalam penggunaan bentuk-bentuk pantun dan mantra. Pantun dan mantra merupakan bentuk tradisi lisan kita yang boleh dikatakan “asli”, meskipun istilah itu bisa saja dimasalahkan.[3]
Pantun merupakan satu di antara sekian banyak genre kesusastraan yang lahir dan berkembang di nusantara. Pada mulanya, istilah pantun ini berasal dari bahasa Minangkabau “patuntun” yang berarti penuntun. Namun ternyata, istilah pantun ini pun dikenal juga di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Batak, dan Melayu.
Dalam masyarakat Jawa, pantun dikenal dengan istilah “parikan.” Dalam masyarakat Sunda dikenal dengan sebutan “paparikan”. Sementara masyarakat Batak mengenal pantun dengan istilah “umpasa” (dibaca uppasa). Masih tentang pantun, dalam bahasa Melayu, pantun dikenal dengan istilah “quatrain”.
Pantun adalah sebuah karya sastra lama yang terikat oleh aturan jumlah bait, baris, dan rima akhir. Pantun digunakan untuk mencurahkan isi hati seseorang.
D.    Ciri-Ciri Pantun:
1.      Satu bait terdiri dari 4 baris atau larik
2.      Tiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
3.      baris kesatu dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi atau maksud, dan
4.      Rima atau sajak akhir a – b – a – b
Surabaya berupa-rupa
Sapu tangan jatuh di lumpur
Hendak lupa tak dapat lupa
Lupa sebentar di waktu tidur[4]

Kapal belayar dari Belawan
Berlabuh tentang Pulau Tujuh
Kalau terkenang kepada tuan
Hati di dalam hancur luluh[5]
Dalam pantun selalu ada dua dimensi yaitu pertama yang disebut sampiran. Konvensi mengatakan bahwa tidak ada yang sungguh-sungguh dengan sampiran. Sampiran semata-mata diciptakan sebagai pengantar menuju isi yang sebenarnya dalam dua larik berikutnya. Bila kita berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia hal yang sama ditegaskan lagi di sana ketika tentang sampiran dikatakannya sebagai berikut: “Paruh pertama pada pantun, yaitu baris kesatu dan kedua berupa kalimat-kalimat yang biasanya hanya merupakan persediaan bunyi kata untuk disamakan dengan bunyi kata pada isi pantun (biasanya kalimat-kalimat pada sampiran tak ada hubungan makna dengan kalimat-kalimat pada bagian isi)”.[6]
E.     Macam-macam pantun
Pantun banyak macamnya, pantun nasihat, orang tua, anak-anak, bahkan muda-mudi. Isi dari pantun menerangkan maksud dan tujuan kepada si pendengar. Di bawah ini beberapa contoh pantun:
a.       PANTUN ANAK-ANAK
Contoh :
Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang
b.      PANTUN ORANG MUDA
Contoh :
Ikan duyung di laut biru
Ikan impian dalam kenangan
Ada kabar adinda rindu
Lewat laut pun kanda berenang
c.       PANTUN ORANG TUA
Contoh :
Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
d.      PANTUN JENAKA
Contoh :
Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
e.       PANTUN TEKA-TEKI
Contoh :
Kalau puan, puan cemara
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki
f.       PANTUN AGAMA
Misi gereja di hari minggu
Sembahyang di mesjid hari jumat
Manusia pasti bersatu
Kalau Tuhan member rahmat

F.      Pantun Pengiring Lagu
Pantun dapat digunakan dalam nyanyian, diantaranya adalah:

Ayam jago jangan diadu
Kalau diadu jenggernya merah
Baju ijo jangan diganggu
Kalau diganggu yang punya marah

Jalan-jalan ke kota Paris
Lihat gedung berbaris-baris
Saya cinta sama si kumis
Orangnya ganteng sangat romantis[7]
G.    Pantun telah mengalami berbagai macam perkembangan hingga tercipta bentukan baru dari pantun, seperti karmina, seloka(pantun berkait) dan talibun. Karmina merupakan bentukan atau versi baru dari pantun yang lebih ringkas karena hanya terdiri atas 2 baris, sedangkan talibun adalah versi panjang dari pantun yang terdiri atas 6 baris atau lebih. Namun seloka, talibun, dan karmina bukan pantun tetapi tetapi termasuk ke dalam puisi lama seperti halnya pantun.

a.       SELOKA (PANTUN BERKAIT)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.
CIRI-CIRI SELOKA:
1.      Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
2.      Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga dan  seterusnya
Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan
b.      TALIBUN
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
-          Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
-          Jika satiu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
Jadi :
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d
Contoh :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
c.       PANTUN KILAT ( KARMINA )
CIRI-CIRINYA :
a.       Setiap bait terdiri dari 2 baris
b.      Baris pertama merupakan sampiran
c.       Baris kedua merupakan isi
d.      Bersajak a – a
e.       Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
Contoh :
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pantun termasuk ke dalam puisi lama, puisi lama merupakan latar belakang lahirnya puisi modern dan puisi kontemporer. Puisi lama memiliki banyak aturan yang mengikatnya berbeda dengan puisi modern yang tidak terikat oleh beberapa aturan. Puisi lama sangat patuh terhadap konvensi yang ada, seperti jumlah bait, rima, maupun baris.
Pantun sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh orang tua, anak-anak, maupun muda-mudi. Walaupun pantun merupakan karya sastra yang terhitung tua karena kehadirannya telah ada sudah lama namun pantun tetap bisa bertahan hingga abad ke-20 ini. Banyak karya sastra lain yang merambah luas di masyarakat kini, pantun tetap menjadi pilihan sebagian orang dikarenakan sifatnya yang elastis, bisa dipakai dalam situasi apapun. Seiring perkembangan pantun, pantun memiliki bentukan baru yang disebut seloka, talibun, dan karmina.








DAFTAR PUSTAKA
Djoko Damono Sapardi. Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2004
Gawa John. Kebijakan dalam 1001 Pantun. Jakarta: Buku Kompas. 2007
Mafrukhi, dkk. Kompetensi Berbahasa Indonesia Jilid 3. Jakarta: Erlangga. 2006
Rosidi Ajip. Kapankah Kesusteraan Indonesia Lahir?. Jakarta: Gunung Agung. 1983
Widjoko dan Endang Hidayat Teori dan Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: UPI PRESS.  2007



[1] Ajip Rosidi, Kapankah Kesusteraan Indonesia Lahir?,(Jakarta: Gunung Agung. 1983) hlm 63
[2] Widjoko dan Endang Hidayat, Teori dan Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: UPI PRESS, 2007), hlm 51-52
[3] Sapardi Djoko Damono, Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004) hlm 6
[4] Op,Cit hlm 52
[5] Drs. Mafrukhi, M.Pd,dkk, Kompetensi Berbahasa Indonesia Jilid 3, (Jakarta: Erlangga, 2006), hlm 11
[6] John Gawa, Kebijakan dalam 1001 Pantun, (Jakarta: Buku Kompas, 2007), hlm 30
[7] John Gawa, Kebijakan dalam 1001 Pantun, (Jakarta: Buku Kompas, 2007) hlm 233



Entri yang Diunggulkan

Stephen Edelston Toulmin

 Sumber: google.com Tidak asing lagi seorang tokoh dunia yang sangat berpengaruh karena telah menyumbangkan ilmunya. Dia ada...