Minggu, 09 April 2017

PELEPASAN



PELEPASAN
Kiki Noffitri

Hari ini kutemukan lagi dirinya yang tak mampu melepasku. Dirinya yang telah bersamaku setahun lebih. Dirinya yang bisa membuatku merasa ada. Hari ni, terucap lagi kalimat perpisahan yang berasal dari perasaan bersalah dirinya.

Tapi hari ini juga kutemukan dirinya yang sulit untuk melepasku dari peluknya.  Hari ini juga kau nyatakan kesediaan hatimu untuk kembali lagi bersamaku. Kau yang hari ini membuatku mengeluarkan air mata kepedihan. Kau yang masih ada dihati.

31/03/17

AKU ATAU TEMANMU?



AKU ATAU TEMANMU?


Pertanyaan klasik yang sering terlontar dari seseorang terhadap kekasihnya. Pertanyaan yang mengakibatkan pertengkaran kedua pihak. Sebenarnya apa bisa seseorang benar-benar memilih temannya? Atau benar-benar memilih kekasihnya?


Saat seseorang berkata kepada kekasihnya bahwa ia memilih untuk memilih kekasihnya daripada temannya. Apakah hal tersebut akan benar-benar terjadi? Apakah orang tersebut akan meninggalkan teman atau teman-temannya hanya untuk terus bersama kekasihnya? Hal ini tidak akan terjadi, pilihan orang tersebut untuk memilih kekasihnya daripada teman-temannya, itu hanyalah sebatas trik untuk menenangkan kekasihnya atau untuk tidak berpusing-pusing karena terus diteror pertanyaan AKU ATAU TEMANMU? Jawaban ini adalah mencari aman dan hanya akan memunculkan statement “aku sayang  kamu” atau “aku mencintaimu.”


Jawaban lain yang keluar adalah “aku memilih temanku”. Pertanyaan yang kerap mengundang persepsi-persepsi lain, bahkan memunculkan pertanyaan baru yang berbunyi, “kamu putusin aku?”, “kenapa kamu memilih temanmu daripada aku, kurangku apa?”, atau serentet pertanyaan lain.  Jawaban ini juga sangat memungkinkan untuk terjadinya perpisahan antara sepasang kekasih tersebut. Padahal kalau diperhatikan kembali, kehadiran teman sangat penting. Dan tidak mungkin pula seseorang akan terus menerus bersama kekasihnya dan meninggalkan temannya.

Sejatinya, teman adalah orang yang tidak ada hubungan darah. Sama dengan salah satu syarat terbentuknya sebuah Negara, pertemanan bisa terjadi karena adanya persamaan. Persamaan emosional, persamaan hobi, cita-cita, ataupun persamaan pembicaraan atau pemikiran. Persamaan, bukan penyeragaman. Mencari ataupun mendapatkan teman yang benar-benar teman memang agak sulit namun, saat telah menemukannya akan sulit pula rasanya untuk jauh atau bahkan ada saja jalan untuk bertemu karena persamaan-persamaan tersebut.

Menemukan teman bisa saja dari pacar, tapi itu tidak murni. Teman dari pacar sudah terpengaruh atau akan membela pacar dari pada Anda. Memiliki teman yang bukan dari pacar akan lebih memahami Anda.
Pernyataan lain yang keluar pula bahwa pacar bisa didapatkan dari teman. Namun, ini namanya perjodohan. Kalau cocok dan berlanjut sih oke. Tapi kalau putus ditengah jalan, bisa saja merusak pertemanan.

Intinya dari tulisan kali ini, apa kamu salah satu dari sekian banyak orang yang sering melontarkan pertanyaan “PILIH AKU ATAU TEMANMU?”

Kamis, 06 April 2017

UNTITLED



 UNTITLED
Kinof

Aku tidak tahu bagaimana caranya mendekatkan diri dengan orang lain hingga orang lain dekat denganku, merekalah yang mendekatkan dirinya padaku, dan jika kami menjadi dekat itu bukanlah usahaku, karena aku tidak berbakat dalam hal itu, aku hanya bisa sekadarnya saja menjalin hubungan dengan siapapun, aku hanya bisa seadanya memperlakukan mereka, bahkan kadang aku meninggalkan mereka karena aku bisa melakukannya sendiri, hingga pada akhirnya pula mereka perlahan pergi, bahkan langsung menghilang dari kehidupanku, dan hanya bayang-bayang kenangan yang samar yang terus menghantui dan membuatku merasa bersalah, aku tidak bisa mempertahankan mereka disampingku.

Kini aku berusaha mendekatkan diri dengan orang-orang yang aku pikir mereka senang dekatku, aku berusaha baik dan menolong mereka, aku berusaha perhatian, aku berusaha yang terbaik dan terbaik yang bisa aku lakukan, namun mereka pergi juga dan kembali lagi saat mereka membutuhkanku, aku tidak bisa mempertahankan mereka disampingku.


TANPA KATA



TANPA KATA
Kinof

Terkadang kita tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan
Dengan orang lama maupun orang baru
Terkadang pula kita menjadi hampa
Saat pembicaraan selesai

Dan ketika berbicara adalah sesuatu yang salah
Akan ada yang dinamakan kerenggangan
Antara kau dengan dia
Antara aku dengan kamu
Antara aku dengan dia

Saat diam menjadi pilihan terakhir
Sesungguhnya kekecewaan yang hadir

Kisah Kisah Klasik

Mungkin kita pernah memimpikan atau setidaknya membayangkan.
Kisah cinta seperti di televisi.
Mencintai yang juga mencintaimu.
Lain kisah, mencintai yang tidak mencintaimu lalu mendapatkan yang lain yang sangat mencintaimu.
Kalian berpacaran atau sering kalian menyebutnya bersatu.
Lalu hidup yang kelihatannya bahagia, padahal? Entahlah...
Kisah cinta singkat yang sangat singkat.
Kisah cinta yang melulu menceritakan kebahagiaan namun sarat akan kesengsaraan.
Selalu diperlihatkan diperdengarkan keromantisan semu.
Realitanya tak selalu seperti itu.


Kiki Noffitri

Senin, 05 Desember 2016

Stephen Edelston Toulmin




 Sumber: google.com


Tidak asing lagi seorang tokoh dunia yang sangat berpengaruh karena telah menyumbangkan ilmunya. Dia adalah Stephen Edelston Toulmin atau kerap disingkat menjadi Stephen E. Toulmin atau Toulmin. Beliau adalah filsuf yang berasal dari Inggris.


Toulmin lahir di London 25 Maret 1922. Toulmin meraih gelar sarjana di bidang matematika dan fisika dari Universitas Cambridge pada tahun 1942. Setelah itu, ia dipekerjakan oleh Departemen Pesawat Produksi sebagai petugas ilmiah junior, pertama di Malvern Radar Research and Development Station dan kemudian di  the Supreme Headquarters of the Allied Expeditionary Force di Jerman. Setelah Perang Dunia II, ia kembali ke Inggris untuk mendapatkan gelar master dan Ph.D. dalam ilmu moral Cambridge University.

Pada tahun 1949, ia mulai mengajar filsafat ilmu di Universitas Oxford. Dia telah mengajar di berbagai universitas terkemuka di seluruh dunia, termasuk Melbourne University, Leeds University, Columbia University, Michigan State University, Brandeis University, University of California, Santa Cruz, serta University of Chicago dan Northwestern University.


Pemikiran-pemikirannya mengenai logika membuat ia mencetuskan suatu teori argumentasi, yang kemudian sekarang dikenal dengan nama Model Argumentasi Toulmin. Model argumentasi Toulmin ini terbagi menjadi enam yaitu klaim, data, warrant, qualifier, dukungan, dan pengecualian. Keenam struktur argumentasi Toulmin ini tertera di dalam bukunya yang berjudul The Uses of Argument. Di dalam buku ini, Toulmin menyelidiki kelemahan logika tradisional, mempertahankan bahwa beberapa aspek dari argumen dapat bervariasi dari lapangan ke lapangan, sementara aspek lain konsisten di seluruh bidang. Toulmin juga mengatakan bahwa kebenaran bisa relatif. Konteks sejarah dan budaya harus dipertimbangkan.



Beliau menutup mata untuk selamanya diusianya yang ke-87 tahun pada tanggal 4 Desember 2009.

 Sumber: http://news.usc.edu/30124/In-Memoriam-Stephen-E-Toulmin-87/

Entri yang Diunggulkan

Stephen Edelston Toulmin

 Sumber: google.com Tidak asing lagi seorang tokoh dunia yang sangat berpengaruh karena telah menyumbangkan ilmunya. Dia ada...